 |
| Speaker First saat di London. CNN |
CARIKARAOKE –
Ada banyak kesamaan antara kota London dan Bandung. Selain soal cuaca, juga
tentang musik. Bisa dibilang, kedua kota ini melahirkan banyak musisi yang
terkenal.
Untungnya di Indonesia, tidak hanya
budaya pop yang ada, namun juga budaya tradisional. Keduanya mampu bersanding
dan saling mendukung satu sama lain.
Bagi yang ingin berkaraoke bersama
keluarga, sahabat maupun relasi bisnis Anda, silahkan daftar sekarang untuk
melakukan booking tempat karaoke secara online, klik banner di bawah ini:
Buktinya terlihat dalam panggung di
ajang pameran kesenian dan kebudayaan Indonesian Weekend yang berlangsung di
Potters Field Park, London, pada Sabtu dan Minggu (28-29/5/2016).
Secara bergantian, band Speaker
First dan kelompok instrumen daerah, Uwi dan Iman Jimbot, mengisi acara selama
dua hari berturut-turut.
Kedua kelompok musik ini sama-sama
mengaku bangga setelah diajak tampil di London, meski acaranya masih terbilang
sederhana. Bagi mereka yang telah bermusik sejak lama, kota itu ialah kiblat
musik dunia.
Jika Speaker First tampil gaya
dengan jaket kulit dan celana skinny, maka Uwi dan Iman Jimbot tampil sederhana
dengan kostum ala pendekar Si Buta dari Gua Hantu.
Sebagai musisi tradisional, Uwi dan
Iman Jimbot mendapat apresiasi yang tidak kalah meriah dari Speaker First.
Sebelum bisa diajak duduk bersama
untuk wawancara, mereka harus menuntaskan dulu obrolan dengan sejumlah
pengunjung yang tertarik dengan penampilannya.
“Dari kemarin apresiasinya bagus.
Kebanyakan yang tertarik itu mahasiswa musik, mungkin karena alat musik kami
sangat antik ya,” ujar Uwi, yang merupakan anak didik mendiang Harry Roesli.
“Mereka banyak bertanya soal hal
yang teknis seperti ketukan nada. Ah, saya mah mana ngerti atuh urusan
begituan, yang penting mah main terus enak didengar saja,” kata Iman sambil
tertawa.
Tak hanya membawakan lagu daerah
seperti Es Lilin, Uwi dan Iman Jimbot juga membawakan lagu-lagu populer musisi
dunia.
Itu dilakukan agar penonton bisa
tahu kalau alat musik uzur seperti kecapi, kendang, suling dan kebab juga bisa
diajak muda.
“Musik itu selalu berkembang, kami
pun harus mengikutinya. Kalau Inggris musisi tradisionalnya itu adalah The
Beatles, maka Indonesia punya kami,” kata Uwi.
“Sebisa mungkin kami ingin
menunjukkan, kalau menjadi musisi tradisional itu tidak akan berujung hanya di
pameran atau museum,” lanjutnya sambil tertawa.
Dengan semangat yang sama, Speaker
First tampil menawan di atas panggung. Sebagian besar pengunjung di Potters
Field Park dan Tower Bridge langsung berhenti melangkah begitu melihat
penampilan Beni Barnady (gitar), Boni Barnaby (gitar) dan Mahattir Alkatiry
(vokal).
Bukan bermaksud untuk mengecilkan
musik daerah, namun mereka tampil dengan semangat pembuktian kalau ternyata
budaya lokal juga berkembang dengan pesat di Indonesia.
“Salah satu persiapannya, kami
membawakan banyak lagu kami yang berbahasa Inggris. Hal ini dimaksudkan agar
tidak ada jurang antara bahasa yang begitu jauh,” ucap Boni.
“Selebihnya lagu yang dibawakan
berbahasa Indonesia. Tapi apresiasinya tetap seru tuh,” lanjutnya sambil
tersenyum.
Seusai tampil, Beni, Boni dan Attir
dikerumuni banyak pengunjung, yang selain meminta berfoto bersama juga memuji
penampilannya.
“Mereka banyak yang kaget kalau di
Indonesia ada band segarang kami. Hahaha,” ujar Attir sambil tertawa.
“Bisa tampil di kota musik London
sepertinya memang impian seluruh musisi di Indonesia ya,” lanjutnya.
Berbicara mengenai kota musik, Wali
Kota Bandung, Ridwan Kamil, pernah memiliki rencana untuk menjadikan kota
Kembang sebagai salah satu kota musik.
Beberapa yang harum namanya sampai
ke dunia ialah Mocca, Tesla Manaf, The SIGIT, Burgerkill hingga Karinding
Attack. Tak ketinggalan komunitas musik underground bernama Ujungberung Rebels
yang sempat menjadi perbincangan.
Baik Uwi, Iman Jimbot dan Speaker
First sudah mengetahui sejak lama rencana ini. Walau tetap mendukung, tapi
mereka sepakat meminta pemerintah kotanya untuk memperhatikan fasilitas
penunjangnya.
“Kami sih mendukung saja, tapi
memangnya sudah tersedia fasilitasnya? Kalau soal lokasi konser, studio musik,
atau apa pun yang berhubungan dengan musik sudah jelas adanya, maka Bandung
baru bisa disebut kota music,” tutur Iman Jimbot. (ard/vga/cnn/um)